Sabtu, 16 Mei 2015


Pemberian stimulasi sejak dini dapat menjadikan anak cerdas, kreatif, dan berkarakter. Salah satu upayanya adalah dengan memberikan mereka pelajaran seni. Seperti yang kita ketahui, bahwa usia dini merupakan periode emas untuk melakukan proses stimulasi aktif sebagai bekal perkembangan serta pertumbuhan kelak saat mereka tumbuh menjadi dewasa. Pada usia dini ini, anak sudah mampu untuk menerima keterampilan dan pengajaran sebagai dasar pengetahuan dan proses berpikir melalui otak.


Otak manusia itu dibagi menjadi dua bagian, yaitu otak kiri dan otak kanan adapun fungsinya juga berbeda. perlu diketahui bahwa otak kiri biasa diidentikkan dengan kerapian, perbedaan, angka, urutan, tulisan, bahasa, hitungan, logika, terstruktur, analitis, matematis, sistematis, linear dan tahap demi tahap. sedangkan, otak kanan diidentikkan dengan kreativitas, persamaan, khayalan, kreativitas, bentuk atau ruang, emosi, musik dan warna, berpikir lateral, tidak terstruktur, dan cenderung tidak memikirkan hal-hal yang terlalu mendetail. Untuk mencapai agar anak menjadi cerdas, kedua otak ini musti distimulasi secara bersamaan; termasuk mengembangkan aspek seni.

Pelajaran atau pendidikan seni terbukti dapat meningkatkan kepandaian anak dalam berekspresi, pemahaman sisi-sisi kemanusiaan, kepekaan dan konsentrasi yang tinggi, serta kreativitas yang gemilang. Dengan begitu, diharapkan anak yang diberikan kebebasan untuk mengembangkan bakat seninya seperti melukis, menulis puisi, bernyanyi atau bermain alat musik, akan mudah menapaki tangga menuju puncak prestasi.

Sebagai Orang tua tentu bangga dengan pencapaian buah hatinya tersebut.
Pada saat anak melukis, biasanya pikirannya akan mengingat benda atau seseorang yang pernah dilihatnya. Dengan begitu, daya ingatnya akan terus terasah. Melukis juga mengembangkan kreativitas anak karena membuat sesuatu dari tidak ada menjadi ada. Banyak gagasan lama menjadi baru saat anak mengapresiasikan lewat gambar.

Contohnya saja saat melukis gunung, dia akan menambah gambar burung atau sawah. Padahal, dari pemandangan gunung yang dia lihat sendiri tidak ada burung. Ini menunjukkan tingkat kreativitas anak mulai tumbuh. Melukis juga dapat menambah perbendaharaan bahasa dan kosakata anak. Caranya, biarkan dia menceritakan gambar apa saja yang baru dia buat. Tidak hanya menjelaskan gambar, mintalah dia untuk membuat kisah dibaliknya. Daya khayal dan imajinasi anak juga mulai dikembangkan pada saat itu. Sementara dari sisi emosi, pendidikan seni dapat berfungsi sebagai alat untuk mengasah kepekaan dan rasa kepedulian sosial anak.

Pengembangan seni pada anak juga dapat dijadikan sarana mengeluarkan emosi secara sehat tanpa menyakiti atau mengganggu orang lain. Dia bisa bernyanyi dengan teriak-teriak, mencoret-coret buku gambar, atau menari sesuka hati saat marah. Emosinya jadi diluapkan dengan berkesenian. Fungsi seni juga dapat meningkatkan kepercayaan diri. Saat anak tampil di atas panggung atau di depan teman-temannya untuk mempertunjukkan bakatnya, dia merasa kelebihannya itu bisa membuat dirinya bangga. Selain itu Menari dan bermain musik juga dapat mengasah gerakan motorik kasarnya karena selalu bergerak.

0 comments:

Poskan Komentar