Minggu, 17 Mei 2015


Mungkin banyak pertanyaan bagi ayah dan bunda mengenai apa sih yang di maksud anak usia dini dan bagaimana karakteristiknya?? pengertian Anak usia dini menurut NAEYC (National Association for The Education of Young Children) adalah anak yang berada pada rentang usia 0 – 8 tahun, yang tercakup dalam program pendidikan di Taman Penitipan Anak, penitipan anak pada keluarga, pendidikan prasekolah baik itu swasta ataupun negeri, TK, dan SD.

Mereka merupakan pribadi yang mampu menarik perhatian orang dewasa dengan tingkah polahnya dan celotehnya. Adapun karakteristik anak usia dini adalah sebagai berikut :

Mempunyai rasa ingin tahu yang besar
Anak usia dini biasanya punya rasa keingin tahuan yang sangat besar sekali, sebagai contoh :
  1.  Pada anak usia bayi, rasa keingin tahuan yang di tunjukkannya adalah dengan meraih benda yang ada di sekitarnya kemudian segera memasukkannya ke dalam mulut.
  2. Pada anak usia 3 – 4 tahun, rasa ingin tahunya biasanya di lakukan dengan membongkar dan memasang sesuatu benda yang menjadi perhatiannya. Selain itu juga pada anak usia ini sangat gemar sekali untuk bertanya meski kalimat yang diucapkannya masih sangat terbata-bata dan sederhana


Merupakan pribadi yang unik
Perkembangan Anak Usia dini antara satu dan yang lainnya mempunyai karakter yang berbeda dan mempunyai ciri khas sendiri-sendiri dalam hal bakat, minat, gaya belajar dan sebagainya. Dan keunikan pribadi anak itu berasal dari faktor genetis dan lingkungan, oleh karena itu perlu sekali untuk menerapkan pendekatan secara individual dalam menangani anak usia dini.

Suka Berfantasi dan Berimajinasi
Pengertian Fantasi adalah kemampuan untuk membentuk tanggapan baru dengan pertolongan tanggapan yang sudah ada. Sedangan pengertian Imajinasi adalah kemampuan anak untuk menciptakan suatu obyek atau kejadian tanpa didukung data yang nyata (siti Aisyah, 2008). Anak usia dini biasanya sangat suka membayangkan dan mengembangkan berbagai hal di luar kondisi nyata. Bahkan mereka juga dapat berimajinasi menciptakan adanya teman imajinasi yang lain seperti orang, benda, ataupun hewan.

Masa paling potensial untuk belajar
Masa ini biasanya disebut dengan “Golden Age” atau “Usia Emas”, karena pada rentang usia ini anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat di berbagai aspek. Kita perlu memberikan berbagai stimulasi yang tepat agar masa ini tidak terlewatkan begitu saja, sekaligus berikan pembelajaran dengan hal-hal yang dapat mengoptimalkan tumbuh kembang anak

Menunjukkan sikap egosentris
pada usia ini anak memandang segala sesuatunya menurut sudut pandangnya sendiri, mereka cenderung mengabaikan sudut pandang dari orang lain. Hal itu dapat dilihat dari perilaku mereka yang suka merebut mainan, menangis dan merengek sampai keingginannya tersebut dipenuhi.

Memiliki rentang daya konsentrasi yang pendek
Anak usia dini memiliki rentang perhatian yang sangat pendek. Perhatian mereka akan udah teralih pada hal – hal lain yang menarik perhatiannya. Pada umumnya seorang anak tidak akan mampu duduk berlama-lama untuk memperhatikan sesuatu apalagi yang sifatnya membosankan. Akan tetapi lain halnya jika mereka memperhatikan hal-hal yang menarik dan menyenangkan. Kita perlu memperhatikan hal ini dalam menyampaikan pembelajaran.

Sebagai bagian dari Makhluk Sosial
Anak usia dini mulai suka bergaul dan bermain dengan teman teman yang seumuran atau sebayanya. Ia akan mulai belajar untuk berbagi, belajar mau menunggu giliran, dan belajar mengalah terhadap temannya. Melalui interaksi sosial ini anak membentuk konsep dirinya sendiri. Ia akan memulai belajar untuk berperilaku sesuai tuntutan dari lingkungan sosialnya, karena ia sudah mulai merasa membutuhkan kehadiran seorang teman dalam kehidupannya

Selain karakteristik yang unik tersebut diatas, anak usia dini juga perlu adanya perhatian pada titik kritis perkembangan. Titik kritis tersebut meliputi :
  1. Membutuhkan rasa aman, nyaman, istirahat dan makanan yang baik.
  2. Datang ke dunia yang diprogram untuk meniru.
  3. Membutuhkan latihan dan rutinitas.
  4. Memiliki kebutuhan untuk banyak bertanya dan memperoleh jawaban.
  5. Cara berpikir anak berbeda dengan orang dewasa.
  6. Membutuhkan pengalaman langsung.
  7. Trial and error menjadi hal pokok dalam belajar.
  8. Bermain merupakan dunia masa kanak-kanak



0 comments:

Poskan Komentar