Kamis, 07 Mei 2015





Pernahkan ayah/bunda mendengar anak kita sering berteriak / menjerit ??,  hal ini biasanya sering di lakukan oleh anak di usia balita. Dan jangan salah ya, teriakan mereka ini bukan karena takut atau melihat hal – hal yang ghaib. Hehehe....
Teriakan / jeritan mereka itu juga merupakan salah satu tahap perkembangan anak, Anak-anak di usia ini seringkali terlihat senang dan puas ketika sudah berteriak / menjerit, dan tidak hanya cukup di situ saja bahkan mereka juga senang sekali saat melihat orang disekitar kaget mendengar  teriakan / jeritannya itu. Bisa di bayangkan saat mereka berteriak / menjerit, pasti gerakan reflek yang kita lakukan adalah menutup kedua telinga kita.


Bagaimana Solusi untuk menghadapi anak yang suka teriak / menjerit :

Berintrospeksi.
Apakah selama ini ada diantara anggota keluarga kita yang berkomunikasi dengan nada berteriak? Ajaklah mereka untuk menghilangkan kebiasaan bicara dengan nada tinggi bila gaya tersebut tidak mau ditiru anak kita.

Menjadi teladan.
Di Mulai dari kita (Ayah/Bunda) berbicara pada anak kita dengan suara yang lemah lembut, manis dan sopan. Ketika berkomunikasi tataplah mata mereka, berbicara lah dengan sedikit berbisik namun tegas. Hal ini akan membuat anak mulai terdiam dan mendengarkan apa yang akan kita sampaikan kepadanya.

Kecilkan suara audio visual dirumah.
Tanpa disadari, kadang – kadang anak berteriak hanya untuk menyaingi suara lingkungan yang gaduh. Perhatikan setelan perangkat audio visual dirumah, apakah sering disetel dengan volume yang tinggi? Bila ya, segeralah kecilkan volumenya agar di rumah tercipta suasana tenang dan nyaman sehngga anak tidak perlu berteriak ketika berbicara

Berikan pengertian.
Ajaklah bicara secara halus pada anak kita bahwa tanpa menjerit / berteriak pun dia akan mendapat perhatian dari orangtua dan orang - orang di sekitarnya. Hindari kata-kata yang berkesan menasihati.
Contohnya : “kakak, tidak usah berteriak-teriak gitu. Ayah/Bunda sudah dengar kok.”

Ajarkan bagaimana menyelesaikan masalah secara positif.
Pada saat emosi sedang memuncak, hidari memarahi anak dengan berteriak-teriak. Bila kita dapat mengontrol emosi dan bisa menyelesaikan segala permasalahan dengan tenang, anak juga akan belajar dengan mencontoh cara menyelesaikan masalah tanpa sikap emosional.

Bermain mengontrol suara.
Ada beberapa permainan yang dapat membantu anak untuk mengontrol suaranya, yaitu permainan saling bisik. Berikan satu kata yang harus disampaikan kepada temannya dengan cara berbisik.

Hindari keinginan membalas berteriak.
Mendengar si balita berteriak biasanya akan mendorong kita untuk membalas berteriak. Reaksi ini sebetulnya wajar akan tetapi sangat kurang bijaksana. Sekali lagi, berteriak untuk menghentikan teriakan anak, justru memicu kompetisi. Dan biasanya tindakan itu dijadikan sebagai alasan, "Ayah Bunda juga teriak, masa aku enggak boleh!"
  
Ajari anak mengatur volume bicaranya.
Berilah anak gambaran seperti apa volume suara yang tidak mengganggu lingkungan itu. Suara yang terdengar di dalam ruangan tentu berbeda dengan suara yang terdengar di luar ruangan. Bantu anak menyadarinya dan mulai ajarkan untuk “menyetel” volume suaranya sesuai tempat keberadaan.

Abaikan.
Terkadang sikap mengabaikan diperlukan demi mengatasi anak yang mencari perhatian dengan berperilaku buruk. Jika sudah diberi tahu bahwa suara-nya amat menganggu, namun ia tetap bicara keras-keras, coba diabaikan saja dia. Nah ketika dia sudah mau menurunkan volume suaranya, berikan senyuman padanya dan penuhi permintaannya. Hal ini mendorong anak untuk mengubah kebiasaan buruknya karena anak tersadar bahwa dia hanya akan mendapat perhatiaan saat dia bicara dengan sopan.

Demikianlah, berbagai cara yang perlu kita coba untuk mengoreksi perilaku anak yang suka berteriak / menjerit. Dan satu hal jangan lupa buat ayah/bunda, pada saat anak-anak kita sudah menunjukkan perilaku yang kita inginkan, berilah dia respons yang positif.


0 comments:

Poskan Komentar